Menjelajah Kyoto

OFF TO KYOTO

Jumat, 22 Januari 2017

20160122_093215

Tiket Bus Nagoya – Kyoto

Sebenarnya saya tidak punya ekspektasi berlebih tentang satu kota ini. Hanya saja penelusuran saya melalui blog orang-orang yang terlebih dahulu sudah singgah ke kota ini katanya kota ini tenang dan jauh lebih nyaman buat jalan jalan ketimbang tokyo. Katanya banyak kuil tua peninggalan masa lalu dan kotanya juga tidak semodern tokyo. Jadi saya pikir tidak ada salahnya saya memasukkan kota ini dalam list saya, mengingat saya kurang suka hingar bingar kota besar, jadi harapan saya memasukkan kota ini ke dalam list adalah untuk me time alias menyepi cari wangsit hahaha. Setelah sebelumnya saya gagal membeli tiket bus ke shirakawa go di meitetsu bus, maka saya memutuskan untuk membeli tiket bus untuk hari ini dari Nagoya ke Kyoto yang kalau tidak salah harganya sekali jalan 2.550 yen.

20160122_110109

Rest Area 

Setelah berpamitan dengan rekan saya yang sudah berbaik hati menampung saya selama di Nagoya jadilah saya pagi ini sudah duduk manis di dalam bus menuju kyoto. Bus yang saya tumpangi kali ini jauh lebih nyaman ketimbang willer bus yang saya tumpangi dari tokyo ke nagoya sebelumnya, busnya mirip bus pariwisata jaman saya masih SMA dulu pergi karyawisata ke Bali, lebih bagus malah. Waktu tempuh dari Nagoya ke Kyoto by Bus kurang lebih 4 – 5 Jam. Sepanjang perjalanan pemandangan yang disuguhkan cantik. Jalanan bersih dengan pepohonan berjajar rapih dengan sisa – sisa tumpukan salju. Tak sedetik pun saya memejamkan mata karena kagum akan indahnya pemandangan yang disuguhkan dalam perjalanan pagi ini. Dalam imajinasi saya mungkin bukit belakang sekolah yang sering diceritakan Nobita dalam film Doraemon secantik ini ya. Tiba – tiba bus berhenti membuyarkan lamunan saya, saya pikir saya sudah sampai di kyoto, ternyata bukan. Bus berhenti di rest area sekedar membiarkan penumpang yang ingin mampir ke konbini (baca : supermarket) untuk membeli camilan karena musim dingin membuat hawa mulut tak mau berhenti mengunyah atau bahkan yang mau mampir ke toilet yang ada bunyi air krucuk krucuk buat norak – norakan kaya saya atau buat buang hajat beneran hehehe.

KYOTO STATION

20160122_133902

Kyoto Station

Akhirnya, setelah melanjutkan perjalanan dan sebelum tengah hari sampailah saya di Kyoto Station. Bayangan saya stasiun keretanya bakalan mirip stasiun pasar minggu. Ternyata untuk kesekian kalinya saya salah. Bagi saya Kyoto station ini lebih mirip bandara. Didalamnya stasiun kereta termasuk shinkansen, dengan pelataran banyak gerai – gerai yang menjajakan aneka barang dagangan tapi bukan pedagang kaki lima dan diluarnya terminal bus dengan petunjuk yang sangat jelas. Platform – platform busnya sudah ditandai sesuai dengan tujuannya, informatif sekali. Nah kalau rekan – rekan sekalian mencari information centre ada di mana di kyoto station, lokasinya mudah sekali ditemukan. Lihat foto saya di depan kyoto station (sekalian promosi), berjalanlah ke arah belakang saya sampai bawah tulisan kyoto station kemudian belok kanan berjalanlah sampai disebelah kiri terlihat eskalator naik. Naik eskalator itu kemudian berjalanlah lurus disebelah kanan ada information Centre. Di information Centre ini para pembaca yang budiman bisa menanyakan tujuan wisata, arah tujuan hidup eh bukan arah tujuan ke wisatanya gimana, naik apa sekaligus minta peta gratis. Jadi jangan malu bertanya ya.

J-HOPPERS HOSTELS KYOTO

20160122_192419

J-Hoppers Hostels Kyoto

Berhubung beban hidup sudah berat, eh maksud saya beban di pundak alias tas punggung sudah berat saya putuskan untuk menitipkannya terlebih dahulu di hostel tempat kami akan menginap. Saya memilih hostel yang lokasinya bisa dicapai dengan jalan kaki dari kyoto station. Setelah membaca berbagai literatur dan survey lagi – lagi di blog orang saya memutuskan untuk menginap di J-Hoppers hostels. Patokannya juga mudah, ngga pake nyasar dibanding waktu saya nyari sakura hostel asakusa waktu di tokyo. Dari tempat saya berfoto didepan kyoto station saya masuk kestation dan keluar diarah sebaliknya. Begitu keluar ambil jalan kekiri tidak jauh dari situ ada lampu merah dekat hotel besar namanya Hotel El Inn, nah menyebranglah di lampu merah itu melewati hotel El Inn. Kemudian berjalanlah lurus terus sampai lampu merah ke empat yaitu lampu merah Oishibashi dan hotelnya sudah ada didepan mata. Gampang banget kan. Tenang saja mba – mba yang jaga cantik banget kaya personil AKB48 plus bisa bahasa inggris lebih fasih dan lancar ketimbang saya, jadi bahasa tarzan tidak digunakan disini *tarik nafas lega).

20170422_104459

Kyoto Bus One-Day Pass

Setelah menyelesaikan urusan pembayaran, saya bertanya juga ke si mba mba cantik yang saya ngga tanya nama dan nomor hp nya itu tentang rute terbaik kalau saya mau ke kiyomizu-dera dan gion gimana caranya. Si mba cantik ini langsung ngeluarin map terus ngejembreng di meja saya yang menurut saya itu sama rumitnya dengan pelajaran aljabar abstrak sewaktu saya kuliah dulu, tapi mau nggak mau musti nyimak dengan seksama biar ngga kena remidi. Intinya kata si mba lebih baik saya beli tiket bus one day pass seharga 500 yen mengingat  saya akan pergi ke lebih dari satu tempat jadi bakalan jauh lebih hemat dan hemat tenaganya lagi si tiket itu bisa di beli di si mbanya. Duh mba udah cantik, ramah, baik, single nggak ya? *gagal fokus. Kemudian saya menuruti saran dan nasehat mbanya dengan membeli tiket Kyoto Bus One Day Pass. Mengapa lebih murah? kata si mba harga tiket bus sekali naik di tokyo itu 230 yen kalau kita mau ke satu lokasi doang akan lebih murah kalau ngga beli one day pass karena 230 yen dikali 2 cuma 460 yen, tapi kalau kita mau ke lebih dari satu tujuan sebaiknya beli one day pass karena cukup bayar 500 yen kita bisa naik bus suka-suka. Buat info rute mana saja yang ke cover sama one day pass dan informasi lainnya bisa lihat disini ya.

KYOTO TOWER

20160122_144032

Kyoto Tower

Setelah menitipkan barang – barang, karena saya tiba sebelum jam check – in, berbekal niat mengabdi negara eh berbekal tiket bus one day pass tadi dan map dari si mbanya saya jalan ke kyoto station tempat saya turun tadi. Niatan mau naik bus ke Kiyomizu dera saya urungkan karena diseberang kyoto station ternyata terletak Kyoto Tower yang mana di dalam kyoto tower ini ada mushollanya. Jadi, buat para pembaca sholeh nan sholehah lagipula pintar yang beragama muslim kalau mau numpang sholat bisa banget nih di musholla Kyoto Tower ini. Selain ada musholla, di dalam gedungnya juga ada persewaan kimono, cantik-cantik banget lho buat yang cewe -cewe kimononya. Saya juga pengen sebenernya jalan – jalan ke kuil pake kimono yang buat cowo, tapi di musim dingin kaya gini daripada dikit dikit sakit perut akibat masuk angin karena kedinginan jadi saya cukup menangis dalam hati saja melihat muda mudi berbusana rapi eh berbusana kimono berseliweran nanti. Didalam Gedung yang sama juga ada Daiso loh, jadi kalau yang mau beli camilan atau pernak pernik lucu bisa banget beli disini. Kyoto Tower ini letaknya persis di seberang Kyoto Station dan ada tulisannya gede jadi gampang banget ditemuin.

20160122_134734

Musholla Pria di Tokyo Tower 

Nah, mushollanya ada dimana?. Masuk dulu ke gedungnya disitu bakalan ada kotak kotak kaca tempat main games mancing boneka kaya di time zone nah sebelumnya ada eskalator disebelah kiri naik dah tu eskalator ke lantai atasnya. Habis itu bakalan ketemu Daiso. Naik eskalator lagi deh sekali dan bakalan ketemu tempat penyewaan kimono. Nah dideket situ ada information desk, untuk pake mushollanya musti daftar dulu ke mba-mba di information desk ini, kemudian kita

KIYOMIZU – DERA

20160122_153120

Kiyomizu Dera

Setelah ngiderin daleman Tokyo Tower termasuk jajan di Daiso, saya melanjutkan perjalanan saya berikutnya yaitu ke Kiyomizu-Dera. Dari Kyoto Station ke Kiyomizu Dera bisa naik Bus nomor 100 atau 206. Saya lupa naik bus yang mana yang pasti salah satu diantaranya yang paling cepat datanglah yang saya naiki wkwkwk. Perjalanan tidak memakan waktu lama karena Kiyomizu dera merupakan stop ke 3 (tiga) jadi ya paling 15 – 20 menit. Begitu sampai bus stop saya bingung harus ke arah mana, celingukan kanan kiri, beruntungnya barengan saya banyak juga yang mau kesana jadi saya ngintil aja jalan di belakangnya. Gampang sih sebenernya, dari bus tadi berhenti tinggal nyebrang aja ke arah jalur bus yang sebaliknya udah deh disitu ada papan petunjuknya tinggal lurus aja jalan terus bakalan sampai ke Kiyomizu Dera. Kalau pada liat foto sebuah kota dari atas trus ngambilnya kaya dari kuil di atas bukit ini nih tempatnya. Sayangnya, kalau mau naik ke atas musti bayar lagi jadinya saya memutuskan keliling keliling di area lingkungan kuilnya saja.

20160122_152249

Kiyomizu Dera

Agak nyesel sih nggak naik ke atas, tapi its ok lah tandanya musti balik lagi ke jepang dan jalan jalan disininya pake kimono dan semoga juga ada yang mau bayarin, aamiin. Setelah puas menjelajah dan waktu sudah sore plus badan lelah, saya putuskan untuk menuju ke spot berikutnya. Sepanjang jalan dari kuil ke Bus stop tempat saya turun tadi banyak penjual souvenir. Menganut paham negara asal saya, dimana souvenir di tempat wisata harganya mahalnya naudzubillah, awalnya saya tidak mau beli apa – apa jadi niatnya cuma keluar masuk dari satu toko ke toko lain, udah gitu aja. Berhubung teman seperjalanan saya dari di tokyo udah belanja dan saya belum belanja apa – apa akhirnya saya tepis anggapan bahwa harga di tempat wisata mahal, saya gunakan akal nalar dan logika saya, asal harganya masuk di akal, nalar dan tentu saja kondisi kantong saya ya saya tidak ragu membeli. Jadilah beberapa barang-barang yang saya jadikan souvenir untuk rekan dan kerabat saya beli di toko sepanjang jalan di sekitaran kiyomizu dera ini.

GION

20160122_171229

Nyari alamat ini nyasar dan ngga ketemu wkwkwk

Dari Bus stop tadi infonya didekat bus stop ada resto tempat makanan ramen halal naritaya ramen kaya di tokyo. Berhubung sudah lapar akut akhirnya kami memutuskan untuk jalan kaki nyari itu restoran. Keluar masuk gang yang diduga sesuai dengan alamat yang dituju, tetapi ngga ketemu juga, hahaha. Hingga akhirnya menyerah dan saya memutuskan untuk menunggu bus ke gion demi niatan saya pengen liat geisha akibat sebelumnya saya pernah baca buku tentang memoirs of geisha jadi saya penasaran akut. Nah, perjuangan dimulai. Bodohnya saya saya ngga tau nih kalau mau ke gion itu saya musti naik bus apa dan turun dimana. Bermodal menerka – nerka dari peta dan saya juga lupa naik bus apa dan turun mana dan mungkin juga karena saya kurang akua, jadilah nyasar. Nanya sana sini akhirnya sampai juga, sayang seribu sayang karena hari belum gelam jadi area gion yang saya lihat tak seindah bayangan saya, kalau saya pergi sendiri mungkin saya bakal ngemper-ngemper di toko toko di area gion buat nunggu malem tiba sampe saya berhasil nemu geisha. Berhubung saya pergi bersama dua rekan saya yang terlihat sudah begitu lapar stadium akhir dan lelah akut akhirnya saya putuskan untuk kembali ke kyoto station dan mencari tempat makan halal di sekitaran sana.

AYAM – YA

restoran-ramen-halal

Restoran Halal Ayam-Ya (foto diambil dari tripadvisor.com)

Menumpangi bus yang sama dengan yang saya tumpangi sebelumnya ke kiyomizu – dera hanya saja kali ini dengan arah sebaliknya yaitu ke kyoto station. Perjalanan terasa lebih lama akibat kelelahan dipadu padankan dengan kelaparan hahaha. Setelah hari gelap akhirnya saya sampai di Kyoto station. Tujuan saya berikutnya adalah resto halal yang namanya Ayam-Ya, yang kata teman saya berada dekat dengan kyoto station. Dari tempat saya berfoto di depan kyoto station tadi, saya berjalan kekiri lurus terus sampe mentok, nah disitu saya nemu jembatan penyebrangan. Naiklah kami bertiga ke jembatan penyebrangan itu bak sun go kong dan pat kay yang lagi ngeker arah mata angin buat nyari kitab suci ke arah mana dan hasilnya nihil. Tidak ada satu gedung pun yang ada tulisannya Ayam Ya. Sambil doa, dari doa mau makan sampai mau tidur akhirnya dicoba siapa tau ada wifi gratisan dan benar saja diatas jembatan itu ternyata ada wifi, langsung saya buka maps minta ditunjukin ke arah restoran Ayam Ya itu.

blogger-image-2018922465

Salah satu Menu ramen di Ayam-Ya (foto diambil dari reikoarihyoshi.blogspot.co.id)

Entah karena saya ada di atas jembatan atau saya yang ngga bisa baca maps, kita bertiga memutuskan turun dari jembatan dan jalan kekanan lurus terus ngikutin maps sampai ketemu lampu merah yang maps nginstruksiin kita buat nyebrang di lampu merah itu dan jalan ke arah kiri. Bingung lah kita, lah kok suruh jalan ke kiri ya, kalau jalan ke kiri itu artinya kita bakal jalan ke arah jembatan penyebrangan tadi. Niatan mau nanya orang yang lewat ternyata pada ngga tau bahasa inggris. Pengen nangis dipinggir jalan deh rasanya, udahlah gitu wifinya putus nyambung pula. Ya sudahlah ikutin aja maunya apa. Mungkin ini yang dinamakan berjuang sampai titik darah penghabisan (lebay wkwkwk) tepat disaat kami akan menyerah, tepat mjuga mata kami menemukan restoran yang kami cari.

写真-41-300x300

Musholla di Ayam-Ya (foto diambil dari marikekyoto.com)

Ternyata letaknya itu tinggal kami nyebrang jembatan penyebrangan yang tadi hahaha. Pengen sujud syukur rasanya pas nemu. Nah begitu masuk ternyata pemesanan makanan melalui mesin mirip mesin beli minuman gitu, udiklah kita bertiga ngga ngerti caranya gimana. Beruntungnya mba mba pramusaji yang ngelayanin ternyata orang indonesia dan mengerti kegelisahan kami. Si mba tadi nyamperin kami dan ngajarin cara pesennya. Kerennya lagi selain di restoran ini sudah ada sertifikat halal, ada tempat sholatnya juga plus kalau mau upsize ramen ke ukuran lebih besar ngga bayar lagi. Kita bertiga ya jelas upsize lah ngga mau rugi hahaha. Sejurus kemudian kami sudah tenggelam dalam mangkuk ramen masing masing. Rasanya jangan ditanya, porsi jumbo saja habis tak bersisa oleh saya. Mana saya pake gegayaan nambah beli nasi putih yang ujung-ujungnya saya take away karena ngga kemakan udah kekenyangan ramen hahaha maruk sih.

20160122_193910

Dorm Bed di J-Hoppers Hostels

Perut kenyang hati senang, saatnya jalan kaki lagi balik ke hostel. Perjalanan ke hostel kami sengaja tidak buru – buru sebagaimana biasanya. Sambil sok – sokan menikmati angin musim dingin yang padahal mah tiap mau tidur kita doanya semoga besok ngga turun salju lagi karena dinginnya ternyata ampun ampunan. Kita bahkan sampai mampir lagi ke tokyo tower buat foto foto tokyo tower di malam hari karena banyak lampu lampunya. Setelah jalan kaki selangkah demi selangkah sambil mampir mampir akhirnya kami sampai juga di hostel. Untungnya udah makan jadi kuat menghadapi kenyataan bahwa kamar kita ada di lantai 3 dan hotelnya ngga ada lift. Jadilah kita angkat angkat tas gemblok berat dan besar lagi sampai kamar kita. Setelah beberes dan membersihkan diri akhirnya kami semua istirahat untuk mempersiapkan petualangan esok hari. Sampai jumpa besok, happy travelling!.

 

Unplanned Nagoya

Rabu 20 Januari 2016

TOKYO – NAGOYA

willer

Foto Willer Bus dari dailyjapan.com

Perut sudah kenyang, saatnya melanjutkan perjalanan. Kami mengambil perkakas yang sebelumnya kami titipkan di sakura hostel asakusa untuk kami bawa ke perjalanan berikutnya. Kami akan melanjutkan perjalanan malam ini menggunakan willer bus dari Tokyo ke Nagoya. Ditengah dinginnya malam musim dingin kami menyusuri nakamise dori menuju asakusa station untuk naik kereta menuju shinjuku station. Mengapa memilih night bus?disamping biar ngga bayar penginapan juga biar hemat waktu dan uang tentu saja. Karena naik bus masih lebih murah daripada naik shinkansen. Harga tiket willer bus Tokyo – Nagoya sekali jalan 3300 yen. Nah, untuk willer bus ini bisa dipesan on line disini dan jauh-jauh hari loh pemirsah. Jadi sebaiknya kalau itinerary sudah fix segera pesan jauh jauh hari melalui on line, selain harganya lebih murah juga banyak promo menarik. Balada pemesanan willer bus ini juga ada drama nya loh yang bikin kami gagal memesan jauh-jauh hari. Tetep ya selalu ada drama diantara kita hahaha, maka dari itu langkah langkah pemesanan willer bus via on line akan saya sajikan dalam artikel tersendiri ya pemirsah.

20160121_114130

Nagoya, view from Nagoya Castle

Hari sebelumnya saat nyasar nyari Terminal bus untuk ke Kawaguchiko saya sekalian nanya ke si mba mba penjaga Odakyu Sightseeing lokasi terminal willer bus. Dari stasiun shinjuku ditunjukkanlah jalan menuju kesana. Emang dasar saya ngga jago baca peta nyasar nyasar jadinya wakakak. Dalam benak saya terminal busnya bakalan banyak bus gitu macem terminal bus kampung rambutan, ternyata saya salah. Terminal busnya lebih mirip gedung perkantoran hihihi. Beruntungnya kami sudah mencari tahu terlebih dahulu lokasi busnya, sehingga saat malam tiba kami sudah tidak kesulitan lagi menuju terminal si willer dari shinjuku station. Soal waktu kami lebih memilih datang terlalu cepat ketimbang grasak grusuk mengingat budaya orang jepang yang on time banget. Lumayan bisa menghangatkan diri di ruang tunggu keberangkatan yang udah kaya ruang tunggu keberangkatan pesawat hehehe. Voila, bus yang kami tumpangi ternyata tidak seindah bayangan kami sebelumnya yang kami pikir bakal dapet selimut terus ada trunknya gitu, ternyata busnya biasa aja hahaha. Entah karena kami beli yang promo atau gimana. Kami dapat kursi dilantai kedua. Emang dasar nempel langsung molor saya mah, baru duduk udah langsung merem aja, beruntungnya kursi sebelah saya kosong jadi bisa buat naroh tas yang saya pakai buat bantalan tidur hehe. Sampai jumpa ya di Nagoya.

Kamis 21 Januari 2016

20160121_080730

Muka bangun tidur makan dorayaki

Sesungguhnya Nagoya ini kami pilih karena kebetulan ada rekan saya semasa di bangku SMA sedang menempuh studi disini dan tinggal sendiri di apartemen. Itung-itung nak jumpa setelah bertahun-tahun nggak jumpa dan intinya mau numpang karena kami mau melanjutkan perjalanan ke shirakawa go (irit mode on). Rasanya baru sekejap saya terlelap tiba-tiba sudah sampai. Lokasi pemberhentian busnya dipinggir jalan, jadi jangan bingung atau merasa dibuang begitu saja. Kami turun di nagoya centre dan berjalan menuju gedung tempat meitetsu bus berada. Mitetsu Bus ini merukan armada bus yang menjual tiket bus dari Nagoya ke Shirakawa Go. Berhubung hari masih pagi jadi loket meitetsu bus belum buka ditambah lagi tidak enak bagi kami untuk gedor gedor apartemen orang sepagi ini yang kami yakini si yang bersangkutan pasti lagi kuliah, maka kami putuskan untuk menyewa loker dan meletakkan barang – barang kami didekat loket meitetsu bus. Menikmati udara pagi dalam keadaan perut keroncongan rasanya kurang pas, jadi kami memutuskan untuk melipir ke sebuah restoran cepat saji sekedar untuk membeli coklat hangat sambil numpang duduk menghangatkan diri dan ngemil kue dorayaki bekal dari museum fujko f. fujio.

NAGOYA CASTLE

20160121_111437

Nagoya Castle

Saat loket bus sudah buka, kami bergegas menuju loket untuk membeli tiket ke shirakawa go. Unlucky me tiket kesana sold semua hiks. Jadilah mendadak dangdut kami seharian ini bakal jalan – jalan keliling nagoya tanpa arah dan tujuan. Akhirnya kami putuskan untuk membeli tiket bus one day pass buat keliling nagoya. Buka – buka map sampe lecek, debat kusir, hingga akhirnya kita putuskan buat turun di osaka castle. Berhubung agenda kami hari ini tidak terlalu padat jadi kami putuskan shelow aja shaaay. Hampir setiap toko suvenir di komplek nagoya castle kami masukin sekedar membeli magnet kulkas atau pernak pernik yang harganya termurah atau bahakn sekedar numpang foto-foto sambil sok sok nanya ini itu berujung pada ngga beli haha untung penjualnya ramah biar pakai bahasa yang yaudah yang penting lw ngerti apa maksud gw hahaha. Bahkan saking isengnya entah berapa lantai itu osaka castle kami naik sampai atas, menikmati pameran yang didisplay di setiap lantainya bahkan termasuk main permainan gimana caranya orang jepang jaman dahulu mindahin batu segede gaban buat bangun castle, ketawa – ketiwi termasuk bikin video ala ala haha but it was fun. Udah saking ngga ada kerjaannya.

NAGOYA UNIVERSITY

IMG-20160122-WA0044

Nagoya University

Perhentian berikutnya kami putuskan buat nyari nagoya mosque. Dari turun bus, nyebrangin taman, nanya satpam, nanya orang lewat, nanya siapa aja yang ketemu pada ade yang tau hahaha yasudahlah akhirnya pasrah balik lagi ke meitetsu bus buat ngambil barang di loker. Kemudian dari meitetsu bus kami berjalan menuju nagoya station untuk melanjutkan perjalanan ke apartemen rekan saya. Apartemen rekan saya ini terletak dekat dengan Nagoya University. Kami berjanji bertemu di kantorpos dekat exit Nagoya Daigoku Station Pukul 15.00. Nyatanya kami sampai lebih dari waktu yang dijanjikan dan sialnya di kantor pos itu ngga ada wifi gratisan, jadilah kami nunggu kaya orang ilang. Lima menit, 10 Menit, 15 menit berlalu akhirnya saya putuskan buat nyamperin temen saya ke kampusnya. Saya cuma inget dari chat terakhir kami itu teman saya bilang kalau dia demen nongkrong di perpus kampus maka berbekal tampang memelas saya masuk area nagoya university dan ternyata ngga bisa sembarangan masuk. Untung dipintu masuknya ada starbucks tempat anak gaul masa kini nongkrong. Masuklah saya kekedai kopi itu celingukan cari muka asia yang bisa saya recokin. Ketemulah mba-mba pake jilbab yang saya jadikan target.

20160121_183603

Muka Bahagia berhasil ketemu dan makan nasi goreng

Sok akrab sok kenal sok deket sok yeah saya nyamperin mba-mba itu sambil ngucapin salam dan memperkenalkan diri ternyata si mb dan temannya dari malaysia. Kemudian saya menjelaskan duduk perkaranya yang intinya saya ngga connect wifi hingga akhirnya saya minta tolong minjem hp mba mba itu buat ngirim chat ke facebook temen saya. Entah karena dingin atau grogi ketemu jodoh eh ketemu si mbanya maksudnya saya sampai lupa password log in face book saya dan dengan dongonya sanya bilang saya lupa password ke si mba dan minta si mba whats app temen saya ngabarin bahwa saya sudah di TKP. Mbanya sempet keberatan gitu sih soalnya temen saya nomornya masih nomor Indonesia bukan nomor jepang, wajar juga sih si mb takut saya berniat jahat. Berbekal rajin nonton sinetron Indonesia saya tunjukkan muka memelas ala bawang putih yang lagi dimarahin bawang merah gara gara ngilangin baju dan tada beruntungnya mbanya mau. Untungnya teman saya membalas pesan dengan sigap. Setelah berbasa basi akhirnya saya kembali ke markas (baca : kantor pos pengkolan nagoya university) untuk menunggu kedatangan teman saya. Finally teman saya datang juga. Kami berjalan menuju apartemen teman saya yang jaraknya tidak terlalu jauh karena sambil ngobrol ngalor ngidul. Nasib kami malam ini selamat hahaha.

Sumimasen Kawaguchiko

Rabu, 20 Januari 2016

KAWAGUCHIKO

20160120_151028

Gunung fuji dari Kawaguchiko

Mentari bersinar cerah pagi ini. Meskipun demikian suhu masih lebih dingin daripada ngulet di dalem kulkas kosan saya. Tumpukan salju sisa semalam juga masih terlihat di tepi – tepi jalan. Pagi ini saya akan menyaksikan gagahnya gunung fuji dari kawaguchiko. Setelah melalui perhitungan yang sangat pelik karena mencari rute termurah saya memutuskan berangkat menggunakan bus. Tiket bus ke Kawaguchiko bisa dibeli di loket Odakyu Sightseeing Service Centre yang ada di luar stasiun shinjuku. Dari asakusa station saya naik tokyo metro Ginza line turun di Akasaka-mitsuke Station dan berganti Marunouchi Line turun di Shinjuku-sanchome station dan berjalan menuju shinjuku. Shinjuku ini stasiun yang hiruk pikuk penuh sesak dan semua orang berjalan tergesa – gesa. Jadi kalau kalian menjadikan tempat ini sebagai titik bertemu sebaiknya sebutkan lokasi dengan jelasnya menunggu dimana apalagi ngga connect wifi macem saya ini daripada celingukan macem anak ayam keilangan induk. Selain bodoh dalam membaca peta saya paling ngga tahan kalau nahan mules atau sakit perut, walhasil saya harus berhenti di stasiun jauh sebelum stasiun shinjuku buat BAB sementara teman saya melanjutkan perjalanan sampai shinjuku.

20160120_162503

Tiket Bus Kawaguchiko-shinjuku

Sesampainya di Shinjuku voila, saya cuma berpikir kalau jodoh pasti ketemu hahaha benar saja teman saya sedang berdiri dipinggiran deretan toko mengamati tiap orang yang lewat mana tau muka lega saya habis BAB menyeruak diantara kerumunan orang yang berjalan serba terburu – buru ini. Setelah bertemu dengan teman saya bak anak ayam ketemu dengan induknya kami keluar melalui west exit buat nyari ODAKYU DEPARTEMENT STORE buat beli tiket Keio bus ke kawaguchiko. Begitu Ketemu itu departement store naiklah saya kelantai 1 celingukan nyari Odakyu Sightseeing Service Centre. Setelah nanya pake berbagai bahasa dari bahasa inggris dan jepang yang tentu saja seadanya dan berakhir pada bahasa tubuh sampailah saya ke loket odakyu sightseeing service centre yang mana loketnya kecil dan letaknya deket tangga. Di loket ini ngga cuma tiket kawaguchiko aja loh ya tapi tiket bus ke doraemon museum sampai tiket kereta atau bus ke hakone juga ada ya macem toko serba ada gitu deh, pokoknya helpfull banget. Setelah antri dengan tertib saya berhasil mengantongi tiket pp shinjuku – kawaguchiko seharga 1750 yen per orang. Waktu beli tiket kita bakal dikasih map dan dijelasin juga letak terminal busnya ada dimana. Emang dasar sayanya ngga bisa banget baca peta ya muter muterlah kita di jajaran gedung gedung tinggi buat nyari itu terminal bus. Dalam bayangan saya terminalnya gede macem kampung rambutan atau lebak bulus gitu ternyata saya sepenuhnya salah wakakak.

20160120_181844

Keio Bus dari dan ke Kawaguchiko

Dari loket Odakyu sightseeing tadi tinggal jalan keluar terus cari LUMINE Shopping mall trus nyebrang jalan deh. Setelah nyebrang jalan itu gedung terminal busnya tepat ada didekat gedung yodobashi. Dan sayanya malah ngeloyor aja karena ngga nyadar gedung sebagus itu didalemnya adalah terminal bus walhasil kita nyasar nyasar dulu ke swalayan macem indomaret buat beli perbekalan mulai dari buah-buahan, telur rebus sampe koyo buat penghangat tangan dan kaki. Hingga akhirnya Bus bertuliskan Keio itu terlihat dikejauhan dan nemulah kita itu terminal hahaha. Tidak lama bus yang saya tumpangi datang dan tepat waktu, jadi jangan sekali sekali ngaret ya ibu ibu sekalian. Perjalan sungguh menyenangkan melalui jalan tol chuo melihat perkampungan yang putih bersih tertutup salju hingga bus berhenti di Fujikyu Highland memperlihatkan roller coaster meliuk liuk bak ular naga panjangnya yang sukses bikin mual dan ngga bakal mau saya naik itu roller coaster. Saya sarankan duduklah di pinggir jendela biar bisa rekam video manja ala ala model video klip hahaha. Tidak terasa akhirnya sampailah saya di Kawaguchiko Station. Dari situ saya bingung mana ini danaunya. Ternyata dari Kawaguchiko station musti naik bus wisata lagi dengan tarif jauh dekat 200 yen.

20160120_152248

Gunung Fuji dari Kawaguchiko

Kami berhenti di bus stop yang menurut kami lokasinya cantik. Puas jalan jalan foto foto kemudian naik bus lagi turun lagi begitu seterusnya sampai kami terdampar di toko souvenir dan galau milih ini itu sampai kami lupa waktu. Hingga akhirnya menyadari bahwa kami harus sudah menunggu bus buat balik ke Kawaguchiko station. Berdirilah kami di bus stop. Udah macem anak pulang sekolah nunggu bus jemputan yang nggak dateng dateng. Resah, gelisah, gundah gulana mengingat waktu udah mepet dari waktu keberangkatan bus kami kembali ke shinjuku, akhirnya kami memutuskan jalan menuju bus stop setelahnya yang jaraknya jauh bung. Dan tiba – tiba bus yang kami tunggu tunggu itu lewat padahal posisi kami udah ngga di bus stop dan bus stop berikutnya masih jauh. Tanpa dikomando kami lari larian ngejar itu bus sambil teriak teriak SUMIMASEEN SUMIMAAAASEEEEEN SUMIMAAAAAAAASEEEEN. Udah ngga mikir malu nggak mikir capek yang kita pikirin cuma gimana caranya bus itu berhenti biar kita ngga telat sampai kawaguchiko station. Rejeki teriakan trio cempreng, bapak bapak sopir bus yang baik hati ngeberhentiin busnya ngga di bus stop. Dengan nafas senin kamis kami naik sambil bilang Arigatou terus terusan, duh jangan ditiru ya ini pemirsah. Awkward momen banget pokoknya.

20160120_191643

Naritaya Halal Ramen

Perjuangan nggak berhenti sampai disitu. Rute naik kita tadi berbeda dengan rute turun. Rute turun ternyata lebih lama karena memutar melewati komplek rumah yang kaya di film film jepang itu. Antara seneng bisa liat langsung komplek rumah yang selama ini cuma saya liat di film tapi deg – degan dan berakhir pada yaudahlah ya inimah bus yang harusnya kita naikin ngga bakal kekejar. Begitu sampai di Kawaguchiko station kami langsung ke loket nanya mba mba penjaga loket dengan muka memelas biar dikasih tiket baru tanpa bayar (ngarep.com) bilang kalau kita ketinggalan bus harusnya naik bus yang ke shinjuku jam 16.10. Bak malaikat si mba mba bilang ke kita kalau bus yang mustinya kita naikin baru aja dateng tuh busnya masih dipengkolan depan karena kejebak jalanan bersalju jadi agak telat. Duh kalau nggak inget bukan muhrim si mba rasanya udah pengen banget saya cipok basah saking girangnya. Bus datang, kami naik ngga sampai beberapa menit pules akibat lelah jalan dan lari larian ahaha. Sampai di shinjuku kami kembali menuju asakusa station dan dalam perjalanan pulang singgah sejenak untuk makan di Naritaya Ramen Halal yang ada di komplek Sensoji Temple. Harga seporsi ramen antara 900 – 1000 an yen. Di Naritaya ramen ini juga ada tempat sholatnya loh buat yang muslim jadi bisa sekalian numpang sholat. Kalau inget kejadian hari ini antara kocak dan malu teriak teriak dipinggir jalan, tapi seru banget deg degannya ngalah ngalahin naik roller coaster dan bikin kita ngakak sepanjang jalan haha. Baiklah saatnya selonjorin kaki dulu guys buat ngelanjutin perjalanan besok. See you tomorrow guys. Happy Travelling.

Bring Back Childhood Memory

Selasa, 19 Januari 2016

SENSOJI TEMPLE

20160119_074657

Sensoji Temple

Pagi ini lebih bersinar dari hari – hari sebelumnya. Meski malu – malu, matahari sudah nampak membuat hari ini lebih hangat dari kemarin. Salju yang konon katanya jarang turun di tokyo pagi ini juga sudah tak nampak. Hari ini saya menyusuri sepinya sensoji Temple pagi ini, bikin makin betah jalan berlama – lama. Kalau sudah siang, temple ini akan ramai dikunjungi baik wisatawan macem saya yang cuma liat – liat dan foto – foto dan juga pengunjung yang sengaja datang untuk berdoa dan ibadah. Akibat cuaca pagi ini yang bersahabat, saya sempatkan keliling – keliling kompleks sensoji temple yang udah tiap hari dilewatin tapi baru sempet dijelajahi.

HACHIKO STATUE

20160119_091743

Hachiko Statue

Puas menikmati sepinya sensoji temple pagi ini, saya melanjutkan langkah menyusuri jajaran toko di Nakamise Dori street yang masih tutup hingga Kaminarimon Gate menuju asakusa station. Tak lupa mampir Kombini (sebutan untuk supermarket macem sevel) untuk beli perbekalan mulai dari telur rebus, buah – buahan dan tentu saja onigiri. Diet?jelas bukan, ngirit guys haha mengingat transportasi dan akomodasi di Jepang ini mahal jadi harus pandai – pandai menyiasati agar budgetnya cukup sampai hari terakhir nanti. Mumpung pagi ini bangunnya pagi jadi saya yakin SHIBUYA crossing pasti belum umek seperti video – video di youtube, maka saya putuskan langsung meluncur ke SHIBUYA sekalian jengukin HACHIKO. Maklum saya paling puyeng kalo udah liet orang umek umekan begitu, apalagi musim dingin begini hakkul yaqin dah pasti pada jarang mandi entahlah baunya bakal gimana kalo umek umekan gitu. Dari asakusa station rutenya sangat simple, cukup naik GINZA LINE warna oranye dan turun di shibuya station. Tidak sampai satu jam saya sudah berdiri didepan Hachiko Statue. Benar saja, karena masih pagi jadi belum banyak orang nongkrong disekitaran patung tersebut. Jadi bisa puas foto – foto tanpa ada background orang nggak dikenal hehe. Kalau udah siangan pasti disini rame orang nongkrong. Jadi kalau mau fotonya bersih dari orang nongkrong datanglah pagi – pagi. Belum terlalu panas dan belum Umek orang.

SHIBUYA CROSSING

20160119_091947

Shibuya Crossing

Berjarak sekitar 100 meteran dari Hachiko statue terletak Shibuya Crossing yang tersohor itu. Alhamdulillah pagi itu belum terlalu ramai, Kok sepi ya? ya iyalah orang masih lampu merah. Sejurus kemudian saat lampu berubah menjadi hijau, orang- orang berhamburan dari berbagai sisi berebutan untuk menyeberang. Waktu sepertinya sangat mahal disini, jarang sekali saya temui orang jalan dengan slow motion. Rata – rata berjalan dengan tergesa – gesa. Mungkin kalau ada yang jalannya macem kura – kura itu saya. Sama halnya dengan pagi ini, dengan dalih hemat tenaga saya cuma berdiri memandangi orang yang lalu lalang menyebrang saja dan tidak ikut ambil bagian menjadi salah satunya. Hayati terlalu lelah hanya untuk bolak balik nyobain nyebrang ditengah kerumunan orang bak cendol ini.

LIBERTY STATUE

20160119_101928

Liberty Statue

Setelah say good bye dan janji bakal balik lagi ke kakak hachiko, saya melanjutkan perjalanan ke statue berikutnya yaitu robot gundam dan patung liberty. Sesungguhnya saya yang bukan pecinta robot kurang paham dunia pergundaman dan nggak tau juga kalau robot gede ini disebutnya gundam yang kalau orang lokal bilang gandam karena yang saya tau paling satria baja hitam dan power rangers. Maafkan kekudetan mimin guys. Dari Shibuya station naik Ginza line warna entah oranye entah kuning turun di Shimbashi Station dan berganti Yurikamome Line warna biru muda turun di Daiba station. Jangan ngambek ya guys, perpindahan antar line di sini emang gitu. Lebih kejam dari ibukota deh pokoknya. Jalannya jauh pisan, ada kali sekiloan jarak antar line nya, kadang malah ada yang pake keluar gedung terus ganti masuk gedung yang lain jadi wajar banget kok kalau kalian nyasar. Pokoknya pesan saya gunakan sepatu senyaman mungkin, kecuali mau uji nyali silahkan pake sepatu berhak 12 cm. Saya yang pake sepatu kets aja betis udah berasa kondean. Keluar station kalau mau senyum, sapa dan salam ke patung liberty ada disebelah kiri kalau mau senyum, sapa dan alam ke robot gundam ada disebelah kanan di depan pusat perbelanjaan Tokyo Diversity. Saya hanya mengikuti kemana arah angin bertiup jadi saya belok kekiri dan berjumpa dengan liberty statue.

GUNDAM

20160119_110320

Gundam

Angin terus membawa saya berjalan tak tentu arah dengan kata lain nyasar nyari – nyari jodoh eh robot gundam maksudnya. Menyerah menghadapi kenyataan ngga nemu mamang robot akhirnya saya putuskan untuk bertanya. Memanglah benar pepatah malu bertanya sesat di jalan, tapi kalau nanya ngga ngerti bahasanya mah sama aja haha. Rata-rata orang jepang ngga bisa bahasa inggris jadi baiknya sebelum kesini belajarlah percakapa sehari hari dalam bahasa jepang biar ngga oon kaya saya haha. Nanya sana sini dari bahasa inggris, bahasa tubuh, bahasa kalbu sampe bahasa tarzan ngga pada ngerti juga. Sampe akhirnya ada dua dedek dedek gemes yang kayanya anak SMP kalau dilihat dari kadar keunyuannya yang sanggup mengartikan maksud saya dan dengan santainya bilang “GANDAM kali ya yang elo maksud” “terserah deh namanya apa pokoknya robot gede gitu” “oh iya ada disono noh” kurang lebih begitulah percakapan kami yang nanya dimana keberadaan robot besar yang ternyata namanya Gundam dan pronounciationnya Gandam. Tragedi pronounciation ini memang kerap membingungkan, seperti hari sebelumnya waktu saya mau ke museum doraemon saya nanya ke mamang jaga tiket subway ke museum doraemon lewat mana. Eh si mamang bingung sampe saya harus nanyiin lagunya soundtrack doraemon sampe nyebutin temen temenya dari nobita sampai shizuka baru si mamang ngeh dan dengan innocentnya bilang oh doraemong. beda NG doang padahal guys *kunyahbatako*. Setelah mengikuti arah yang ditunjukin sama dua dedek gemes tadi alhamdulillah saya nggak nyasar dan sampai di patung robot besar tadi yang ternyata letaknya di depan mall Tokyo Diver City. Emang dasar ngga bisa liat mall dikit ya, langsung belok ke dalem tokyo diver city, niatnya mah nyari tempat yang ada penghangat ruangannya karena di luar anginnya dingin. Apalah saya ini yang sangat lemah kalau udah masuk mall. Mengingat masih banyak list dan keterbatasan waktu alias keterbatasan uang, berakhir lah sesi ngemallisme hari ini.

TOKYO IMPERIAL PALACE

20160119_123444

Tokyo Imperial Palace

Hari masih belum terlalu siang saat saya beranjak dari Daiba Station menggunakan Yurikamome Line warna biru agak muda hingga di Shimbashi Station. Setelah termenung sepanjang perjalanan akhirnya saya putuskan untuk mampir dulu ke Tokyo Imperial Palace. Dari Shimbashi station Naik Tokaido line warna oranye turun di Tokyo Station. Tokyo station ini bangunannya bagus mirip istana gitu. Jadi keti perjalanan menuju Palace jangan lupa menoleh ke belakang buat liat bangunan Tokyo station ya. Mirip di eropa gitu (kaya pernah ke eropa aja wakakak). Jalan kaki menuju Tokyo imperial Palace lumayan jauh, kalau di kalkulasi ibarat dari kebun binatang ragunan ke kantor departemen pertanian. Entah setelah berapa kali nyeberang akhirnya sampai juga saya di Tokyo Imperial Palace. Ngga sia – sia kesini, masuknya gratis dan kompleksnya luas. Lumayan buat duduk duduk manja nyelonjorin kaki yang lelah jalan naik turun metro yang perpindahan line nya ngga santai.

DISNEYLAND

20160119_152024

Tokyo Disneyland

Hari semakin siang, pegel kaki dan encok pinggang mulai terasa. Setelah dipikir – pikir akhirnya saya putuskan untuk lanjut lagi ke Disneyland. Niatan awal cuma mau foto – foto di gerbang masuknya habis itu balik. Dari Tokyo Station naik Keio Line warna merah turun di Maihama Station. Begitu keluar station sempet ragu mau milih Disneyland atau Disneysea, kalau saja punya duit lebihan pasti dua duanya dijabanin. Apalah daya cuma bisa pilih salah satunya, maka saya pilih Disneyland saja karena saya pikir Disneysea bakal basah basahan yang mana ini musimnya lagi winter daripada saya jadi patung es balok jadi saya putuskan ke Disneyland saja. Niat mau ke Disneyland tapi pikiran masih Disneysea walhasil saya jalan kakinya ke gerbang Disneysea numpang foto bentar dan sadar kalau nyasar balik lagi deh jalan ke Disneyland. Niat tinggallah niat. Niat awal foto digerbangnya aja akhirnya udah ngantri masuk beli tiketnya aja. Mudah mudahan besok masih bisa makan ya. Sampai didalem pas banget lagi ada pawai boneka karakter disney, dilanjut ada pertunjukan drumband lagu lagu ost film disney. Entah mengapa bahagianya jadi berlipat ganda berasa balik ke jaman masih piyik lari larian bareng donald duck ama mickey mouse. Terus sekarang udah segede gini berasa lagi nyanyi let it go bareng anna sama elsa sambil mainan ice skating (yakali -.-).

20160119_143850Pas banget selesai nonton drumband ternyata orang – orang di dalem lagi pada siap siap nungguin mau ada karnaval mobil hias. Ngga mau ketinggalan saya pun sama menyeruak diantara orang – orang sampe duduk lesehan paling depan. FYI angin disini kenceng banget tiap antri naik wahana saya sampe joget joget ngga jelas bareng para pengantri lainnya biar ngga kedinginan. Ini adegan paling awkward. Padahal longjhon udah rangkap dua, baju biasa, sweater, plus jaket tebel masih aja nembus dinginnya. Walau kedinginan saya tetep betah berlama lama disini sampe karnaval sesi kedua pas malem harinya. Karnaval malemnya lebih asooyy mobil hiasnya beda ama yang sore. Banyak lampu lampunya. Tips buat rekan rekan yang muslim dan bingung mau ibadah dimana, jangan ragu buat nanya bagian informasi yang ada setelah pintu masuk karena mereka akan nyediain ruangan buat ibadah. Jangan lupa sebelum nanya ambil wudhu dulu ya biar ngga bolak balik kaya saya haha. Paling bakalan ditanya berapa lama waktu yang diperlukan buat ibadah 5 menit?10menit?. Awalnya kepikiran sholat ditaman nyari yang sepi, berhubung saya sendirian macem bebek kehilangan induk agak bingung juga sih akhirnya dengan kekuatan bulan eh dengan malu malu kucing saya beranikan diri buat nanya ke babang bagian informasi soal keberadaan praying room yang ngga ada di maps dan voila ternyata memang ngga ada tetapi mereka nyediain ruangan buat dipinjem kok. Jadi jangan ragu ragu buat nanya ya. Demikian perjalanan saya hari ini. Biar kedinginan tapi hati bahagia berasa balik ke anak anak lagi hahaha. Sampai jumpa besok ya. Happy Travelling

Touch The Snow

Senin 18 Januari 2016

20160118_110031

Salju di prefektur kanagawa

“wake up!wake up!” teriakan salah seorang teman satu dormitory saya asal tiongkok membuat saya yang masih ngulet dikasur mau tidak mau bangun. Malam sebelumnya saya sempat berkenalan dengan rekan satu dormitory saya yang sampai hari ini saya lupa namanya (maapkeun >.<) yang jelas satu dari tiongkok dan satu lagi dari hongkong. Malam itu kami bercerita banyak yang salah satunya adalah impian saya ke jepang bulan januari ini salah satunya adalah mencicipi dinginnya salju. Jadilah pagi ini rekan satu dormitory saya heboh bangunin saya ketika mendapati tokyo pagi ini turun salju. Tidak cuma heboh teriak teriak, teman saya ini semangat betul narik narik saya ke jendela yang saya pikir ada kebakaran atau bencana apa dan dengan bangganya doi bukain jendela sambil teriak LOOK, SNOW!!. Norak norak bergembiralah kami ngelongok ngelongok keluar jendela kamar sambil teriak teriak snow, snow, snow. Pertama kalinya dalam hidup saya, saya liat salju yang menumpuk diatap atap rumah, jalanan dan bulir bulir putih yang masih turun dari langit, indah betul mirip di film film. Sesuatu yang selama ini cuma bisa saya liat di film akhirnya hari ini jadi kenyataan. Setelah Puas menikmati salju dari jendela kamar hingga pipi chubby saya merah semerah buah tomat dengan gerakan serba lambat akibat cuaca yang dingin, saya bergegas mandi karena hari ini saya sudah memiliki tiket kunjungan pukul 10.00 ke MUSEUM FUJIKO F. FUJIO alias MUSEUM DORAEMON. Setelah mandi, sarapan sekaligus bawa bekal buat makan menjelang siang (nggak mau rugi wakakak) saya menerobos salju pagi itu.

MUSEUM FUJIKO F. FUJIO (MUSEUM DORAEMON)

20160118_114918

Fujiko F. Fujio Museum

Saya pikir dari tempat saya berada menuju museum doraemon ini hanya perlu waktu paling lama satu jam, berangkatlah saya dan rekan saya dari hostel pukul 09.00. Perjalanan dari hostel menuju asakusa station ternyata tidak mudah. Salju turun begitu deras yang berubah jadi hujan. Sepatu saya basah kuyup akibat sembarangan menginjak salju yang ternyata empuk. Dalam pikiran saya salju itu macem es balok yang keras jadi ya tinggal injak injak saja ternyata salju yang baru turun itu lembut mirip es serut jadi ya langsung ambles dan basah sepatu dan kaki saya. Ternyata memang harus pake sepatu boots guys!. Apalah daya sudah kepalang basah, diburu waktu dan masalah sebenarnya karena nggak punya sepatu boots wkwkwk. Dengan sepatu basah dan kaki kedinginan saya tetap menyusuri Sensoji Temple, Nakamise Dori, Kaminarimon Gate dan sampailah di Asakusa Station.

20160118_114627Dari Asakusa Station Naik Tokyo Metro Ginza Line Warna Oranye turun di Omote-Sando dan tidak perlu beli tiket karena saya masih menggunakan tokyo metro 3 day pass yang sebelumnya saya beli di hostel. Dari Omote-Sando naik Tokyo Metro Chiyoda Line turun di Yoyogi-Uehara dan masih pakai pass. Dari Yoyogi-Uehara naik Odakyu Odawara Line Express turun di Noborito Station. Nah saya lupa harga tiketnya berapa nih dari Yoyogi-Uehara ke Noborito, tetapi yang jelas saya turun nggak di Noborito, saya turun satu station setelahnya kemudian dilanjut bayar naik bus ke Museum Fujiko F. Fujio. Sama saja sih turun di Noborito juga masih dilanjut naik bus kok ke museumnya bayarnya juga sama 210 yen, bedanya busnya yang dari Noborito ini lucu ada gambar doraemonnya hehe.

20160118_114447Finally setelah muter muter kek baling baling bambu sampailah saya didepan muka itu museum dan sudah lewat dari jam tiket saya. Nggak mau rugi, dengan muka memelas saya bilang ke mbak mbak yang jaga pintu maaf banget mbak telat dan rejeki anak sholeh mbaknya belum saya jelasin udah langsung bilang telat karena badai salju ya?iya ngga papa kok ayo masuk (pake bahasa jepang yang saya nggak ngerti artinya kemudian ganti bahasa inggris saya yang juga seadanya akhirnya bahasa tubuh baru saya ngerti maksudnya hahaha). Saat masuk di meja resepsionis saya dijelaskan aturan main di museum, selama didalam museum nggak boleh foto foto apalagi makan minum sambil jumpalitan. Kemudian saya dibekali semacam HT yang kalau kita pencet nomornya akan menjelaskan tentang koleksi yang ada didalam museum. Tiap koleksi museum ada nomornya, jadi kalau mau dengerin penjelasan tentang koleksi tersebut tinggal pencet nomor di HT tadi sesuai nomor koleksi terus dengerin deh. Setelah puas menjelajah bagian dalam museum yang berisi karya bapak Fujiko F. Fujio beserta miniatur ruang kerjanya, saya menjelajah area taman dimana di area ini ada tempat jajan dan spot foto. Jajanan pertama yang saya cari adalah kue Dorayaki dan melon pan yang terkenal ngalahin berita pacarannya babang hamis sama neng raisa. Sayang seribu sayang kata rekan saya kue melon pan nya menurut facebook page halal media japan entah halal atau tidak yang jelas membuat kami gagal mencoba kue melon pan hiks.

HARAJUKU STREET

20160118_165958Berhubung kaki sudah basah, kedinginan dan butuh kasih sayang eh kehangatan maksudnya, dari noborito station saya menuju harajuku street untuk berburu sepatu boots baru murah meriah semua gembira. Kali ini saya mencoba rute yang berbeda dengan rute saat berangkat, kali ini saya menaiki bus lucu bergambar doraemon dari museum ke Noborito station. Dari Noborito station saya kembali naik Odakyu Odawara Line Express turun di Yoyogi-Uehara dan berganti naik Tokyo Metro Chiyoda Line turun di Meijijingu-Mae Station. Begitu keluar station saya menyusuri jalan menuju Takesihita Dori sampai mentok lalu menyeberang jalan dan sampailah di Harajuku street. Sisa waktu saya habiskan untuk berbelanja yang niat awalnya hanya sepatu boots untuk mengganti sepatu saya yang basah sampai beli A – Z yang entah apa saja. Recommended banget untuk mencari berbagai macam barang barang dengan model yang lucu lucu dan harga yang ramah di kantong ya di Takesihita Dori dan Harajuku Street ini. Kalau mau yang branded bisa geser dikit ke jajaran toko toko barang branded yang ada di jajaran omotesando. Judulnya tawaf toko ini pokoknya, tiap toko dimasukin hahaha. Dingin, lelah dan lapar ilang semua kalau udah belanja. Setelah unbudget things ini selesai dan betis udah mulai kerasa kondean saya memutuskan untuk kembali ke hostel dari omotesando station naik Tokyo Metro Ginza Line Warna Oranye turun di Asakusa station. Biar lelah jalan kaki menuju hostel dari asakusa stasion sambil menikmati sensoji temple di malam hari rasanya itu bikin pengen balik ke jepang lagi hehe. Sampai bertemu besok ya, Happy Travelling guys!.

Konnichi wa, Tokyo

Minggu, 17 Januari 2016

HANEDA AIRPORT

20160117_071347

Line subway ke Asakusa

Kalau kata Celine Dion new day has come. Pagi ini rasanya lebih cerah dari pagi – pagi saya sebelumnya. Saya bangun tidur dengan sendirinya, tanpa alarm ataupun dibangunin temen kosan. Tanpa mandi, sikat gigi, cuci muka apalagi sarapan saya bergegas menuju subway keikyu line di lantai 2f. Papan petunjuk menuju subway keikyu line sangat jelas jadi jangan khawatir akan nyasar. Sebelumnya jangan lupa mampir ke information centre terlebih dahulu ya untuk minta subway map yang umeknya naudzubillah. Minta mapnya juga jangan cuma satu, karena subway map ini bakal jadi teman hidup selama perjalanan untuk antisipasi lecek, sobek, hilang dan terkoyak. Agenda pertama di hari yang cerah ini adalah singgah terlebih dahulu ke hostel untuk meletakkan barang bawaan, sukur – sukur boleh dan sempat numpang mandi. Selama di tokyo saya akan menginap di sakura hostel asakusa. Kenapa hostel ini yang saya pilih, alasannya adalah karena sudah sering dibahas dan direkomendasikan oleh traveller – traveller yang sebelumnya sudah lebih dahulu mengunjungi tokyo. Alasan yang sebenar – benarnya alasan adalah karena saya mepet banget nyiapin itinerary buat perjalanan kali ini, karena ke sok sibukan saya akan pekerjaan di akhir tahun. Maklum sampai saat ini masih harus kerja banting tulang biar bisa tetep travelling. Ngarep banget suatu saat bisa travelling dan ada yang bayarin hahaha.

20160117_072011

Subway Tiket

Sejurus kemudian saya termenung didepan subway map yang terpampang di dinding atas mesin penjualan tiket otomatis. Semakin bingung lagi karena banyak sekali lalu lalang orang yang sepertinya selalu terburu – buru. Kebingungan ini disebabkan tak lain dan tak bukan adalah karena tulisan yang terpampang di papan semuanya menggunakan huruf kanji. Sok – sokan ngeluarin pasmo card pinjeman saya menuju mesin penjualan tiket otomatis dan lagi lagi saya bingung, karena monitor hanya menampilkan harga – harga tiket tanpa nama tujuannya. Melihat tampang saya dan rekan saya yang kebingungan dengan baiknya seorang pria jepang berbaik hati membantu kami, sayangnya kebingungan mamang mamang jepang baik hati ini terbaca jelas oleh saya meskipun tidak menyurutkan niatnya untuk membantu kami. Saya meninggalkan rekan saya yang sedang berdiskusi dengan simamang dan memutuskan untuk nanya aja ke bagian informasi tiket yang ada di samping mesin penjualan tiket otomatis. Kata si mbak penjaga harga tiket ke asakusa 620 yen, kalau pake pasmo bedanya cuma 6 yen jadi 614 yen dan tiketnya bisa dibeli ditempat si mbak. Berhubung pake pasmo tidak signifikan harganya, dengan alasan jiwa korsa saya menyamai rekan seperjalanan saya yang belum punya pasmo untuk beli one way tiket.

20160117_072434Tiket sudah ditangan tak membuat saya bergegas pergi. Saya menuju sebuah mesin mirip mesin ATM yang berada di sebrang si mbak informasi tadi. Mesin mirip mesin ATM tersebut adalah mesin pendaftaran wifi gratis. Mengingat saya bakal jadi fakir kuota internet selama di jepang karena tidak membeli simcard atau nyewa wifi portable, maka saya memutuskan untuk mendaftarkan diri di mesin wifi gratis ini. Caranya sangat mudah (karena ada bahasa inggrisnya wakakak), scan paspor di mesin ini, kemudian mesin ini akan mengeluarkan kertas seperti bon belanja yang isinya adalah serangkaian kode. Setelah mendapatkan kode tersebut tinggal download aplikasi wifi travel japan melalui smartphone. Saran saya, download aplikasinya pas di Indonesia aja sebelum berangkat. Setelah berhasil download aplikasi kemudian masukkan kode tersebut ke aplikasi. Voila, secara otomatis aplikasi ini bakal nyari dan ngonekkin kita ke wifi terdekat dan gratis. Selain itu, aplikasi ini juga bakal ngasih tau promo – promo diskon tentang gerai – gerai yang ada disekitar kita. Lumayan membantu banget.

ASAKUSA AREA

20160120_073409

Sakura Hostel Asakusa

Melanjutkan perjalanan, saya menuju tempat menunggu subway. Begitu ada subway tiba tanpa ba bi bu saya langsung naik. Untungnya rekan saya merasa tidak yakin kita berada di subway yang tepat, doi nanya ke salah satu penumpang apa benar ini subway ke asakusa dan eng ing eng ternyata bukan. Baiklah daripada nyasar kita akhirnya turun di stasiun subway terdekat dan memutuskan menunggu subway berikutnya yang katanya ke asakusa. Patokannya ada di papan penunjuk jam dan tujuan subway di setiap stasiun. Jadwal subway on time jadi jangan asal naik kereta seperti saya ya hahaha. Tak lama menunggu, subway berikutnya tiba. Was – was salah subway lagi bertanya ke penumpang lain apa benar ini subway ke asakusa dan benar!. Rute dari airport ke asakusa tidak tertulis secara mendetail di dalam map yang saya minta dari mbak mbak informasi di airport tadi. Sialnya kata si mamang yang saya tanya tadi katanya ada sekitar 11 stop lagi baru sampai asakusa. Lumayan jauh ya. Sialnya lagi karena cuaca yang dingin, perut saya tidak dapat kompromi bawaannya pengen pup. Rasanya pengen turun seketika itu juga, untungnya berhasil nahan walaupun keringat dingin karena nahan pup sepanjang jalan wkwkwk. Begitu sampai di Asakusa Station saya menuju exit 1, sensoji temple atau kaminarimon Gate. Saya akan menginap di SAKURA HOSTEL ASAKUSA.

KAMINARIMON GATE

20160120_074521

Kaminarimon Gate

Saya pikir perjalanan ke hostel tidak jauh dari asakusa station. Ternyata jalan menuju Kaminarimon Gate tidak hanya lurus saja dari asakusa station. Untungnya salah seorang rekan saya sudah mencetak petunjuk arah dari Asakusa Station menuju hostel, meskipun demikian tetap saja nyasar hahaha maklum saya bukan pembaca peta yang handal. Setelah menyusuri nakamise dori dari Kaminarimon gate hingga hozomon gate dan mengeliling sensoji temple sampailah kami di hostel. Jam check in masih sekitar 1 atau 2 jam lagi. Waktu yang tersisa ini saya manfaatkan untuk menanyakan perihal pemesanan tiket willer bus secara on line ke mamang resepsionis hostel yang alhamdulillah bisa bahasa inggris. Sebelumnya saya dan rekan saya sudah umek selama di jakarta karena kami tidak pernah berhasil memesan tiket willer bus secara on line dan selalu gagal di bagian kolom pengisian nomor telepon. Untungnya mamang resepsionis hostel ini mau mesenin tiket willer bus buat kita. Setelah ngasih print out bukti pemesanan tiket willer bus si mamang menyuruh kita untuk membayar tiketnya di Lawson terdekat. Kami juga tak lupa untuk membeli tokyo metro pass yang 3 hari seharga 1500 yen. Kalau harga perhari 800 yen jadi kalau beli untuk 3 hari langsung dapat discount jadi 1500 yen lumayan hemat 900 yen.

20160117_110757

Mesin Loppi

Setelah urusan pemesanan tiket, metro pass, per toiletan dan penitipan barang, kami memutuskan untuk berjalan menyusuri area asakusa. Berkeliling area asakusa tak pernah membosankan buat saya. Banyak pertokoan menjajakan aneka macam makanan dan merchandise. Kali ini saya mencari mesin loppi yang ada di lawson untuk membeli aneka tiket dan membayar tiket willer bus yang akan kami gunakan ke Nagoya. Mesin loppi ini bentuknya mirip mesin ATM, percayalah biarpun ada bahasa inggrisnya tetep butuh asistensi dari mamang lawson untuk bisa sampai tahap pembelian tiketnya wkwkwk. Tiket willer bus, Ghibli museum, doraemon museum, dan Universal Studio Japan dapat dibeli disini. Mesin Loppi ini akan mengeluarkan semacam kertas bill yang harus di bayar di kasir lawsonnya. Nah setelah kita melakukan pembayaran nanti tiket akan diberikan. Hal ini sangat memudahkan kita loh, karena tiket yang kita dapat bisa langsung digunakan masuk objek wisata. Jadi kita tidak perlu repot mengantri pembelian tiket lagi ketika sampai di TKP. Lumayan menghemat waktu. Apalagi macam objek wisata yang ada jadwal kunjungannya seperti museum doraemon dan ghibli. Sayang seribu sayang, tiket kunjungan ke ghibli dihari dan waktu yang saya inginkan semuanya sold, belum rejeki guys. Tandanya musti balik lagi kemari, remidi hehe.

UENO PARK

20160117_154114

Ueno Park

Dari area asakusa kami bergerak menuju area sumeda river, memandang tokyo tower dan pabrik asahi bir di kejauhan. Kalau punya budget lebih boleh dicoba tour mengelilingi sumeda river menggunakan kapal kaca yang futuristik. Daripada saya nggak makan besok hari gara gara bayar tiket tour sumeda river jadi saya putuskan cukup memandangi dari kejauhan saja hehe. Mumpung cuaca cerah, setelah menyusuri area sumeda river dan bermain bersama segerombolan burung dara saya bergerak menuju asakusa station. Dari asakusa station saya menuju UENO PARK menggunakan subway. Jajaran pohon sakura kering menghiasi seluruh penjuru ueno park. Terbayang di benak saya ketika nanti musim semi tiba, jajaran pohon sakura kering ini pasti berubah menjadi jajaran cherry blossom yang luar biasa cantik. Pokoknya harus balik lagi pas cherry blossom. Berjalan menyusuri ueno park ditengah dinginnya cuaca hari ini meembuat saya lapar dan memutuskan untuk berburu makanan di AMEYAYOKOCHO. Jajaran street food di ameyayokocho sore itu sungguh menggoyang lidah. Teman saya memutuskan untuk membeli buah buahan mulai dari nanas, melon hingga apel. Sepotong nanas harganya 100 yen, rasanya manis dan segar. Beruntungnya di antara jajaran penjual makanan di ameyayokocho ini ada doner kebab halal, tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk makan seporsi kebab dengan nasi sebagai makan malam saya ini.

TOKYO TOWER

20160117_185036

Tokyo Tower

Beranjak dari area ueno, saya menggunakan JR Lines menuju Akihabara Station. Berbekal niat pengen tau AKB48 Cafe yang tersohor itu. Niatnya sih mau jalan ke theatrenya juga, tetapi berhubung hari sudah gelap dan angin begitu dingin kencang, setelah berfoto di depan AKB48 Cafe saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Tokyo Tower. Dari Akihabara Station bisa menggunakan JR Lines dan turun di JR Station Hamamatsucho atau menggunakan subway turun di Station Daimon. Keluar dari station subway jalannya lumayan juga karena hembusan angin yang hmmm dinginnya maakjaang. Saran saya apabila sudah memiliki Tokyo subway pass sebaiknya menggunakan subway saja tidak usah menggunakan JR Lines karena musti bayar lagi. Memang orang Jepang ini hobi jalan. Perpindahan antar line subway saja bisa satu kilo sendiri jaraknya jadi siap siap betis berkonde ya guys selama travelling ke jepang. Berjalan keluar station subway Daimon menyusuri Kuil Zojo-ji di malam musim dingin dengan lampu temaram melewati jajaran patung buda setinggi anak usia 1 tahun yang begitu banyak rasanya suasana menjadi mistis. Alasan saya memilih mengunjungi Tokyo Tower di malam hari tentu saja karena ingin menyaksikan kerlap kerlip lampunya bak menara eiffel di paris (kaya pernah aja hehe). Benar saja, lelah hilang begitu melihat cantiknya gemerlap Tokyo Tower malam ini. Buat yang memiliki budget lebih bisa naik ke observatoriumnya menjoba menjejakkan kaki di atas lantai bening.  Tokyo tower menjadi destinasi terakhir saya hari ini saatnya beristirahat di hostel, sampai jumpa besok, Happy Travelling!.

Menuju Negeri Matahari Terbit

Sabtu, 16 Januari 2016

20160116_074053

Terminal 3, Bandara Soetta

Rejeki Anak sholeh, beberapa bulan sebelum keberangkatan dapet kabar kalau rute penerbangan Kuala Lumpur – Narita ditutup. Akibatnya rute dialihkan menjadi Kuala Lumpur – Haneda. Akibatnya lagi saya bisa reschedule jadwal penerbangan tanpa kena admin fee. Setelah perundingan meja kotak dan berbekal niat nambahin waktu biar lebih lama nikmatin Jepang, jadwal penerbangan yang seharusnya tanggal 18 Januari 2016 akhirnya dimajuin 2 (dua) hari jadi tanggal 16 Januari 2016. Tiba – tiba menjelang hari keberangkatan meledaklah bom sarinah yang berakibat pada nilai tukar rupiah terhadap yen meningkat tajam. The show must go on, disaat yen lagi mahal – mahalnya saya bertolak menuju negeri matahari terbit. Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta nyaris menjadi saksi seluruh perjalanan saya, tidak terkecuali hari ini. Tanpa adegan deg – degan naik taksi buru – buru, bayar taksi pake mata uang asing karena uang rupiahnya kurang, dan lari marathon mengejar gate yang hampir ditutup, kali ini saya duduk manis dengan tenang di dalam mobil dengan sopir pribadi (baca : grab car) dan sampai gate keberangkatan tepat waktu dan masih sempet foto – foto dulu.

 

20160117_001336

Salah satu sudut Haneda Airport

Pesawat yang saya naiki take off tepat waktu dan landing di Kuala Lumpur pun tepat waktu. Jeda waktu saya ke penerbangan berikutnya hanya 2 (dua) jam, pas untuk antri transfer penerbangan, jalan menuju gate dan duduk – duduk sebentar ngelurusin badan. Perut mulai lapar, untungnya saya sudah memesan makanan untuk penerbangan Kuala Lumpur – Haneda, jadi nanti tinggal makan, kenyang, tidur dan tau – tau sampai hehe. Alhamdulillah penerbangan selanjutnya juga berjalan lancar. Tibalah saya untuk pertama kalinya di bandara Haneda, Jepang. Rasanya campur aduk, dari jaman piyik setelah berpuluh – puluh tahun cuma bisa liat Jepang dari film doraemon, akhirnya hari ini saya berhasil menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di Jepang. Kesan pertama ketika menyaksilkan suasana bandara haneda adalah rapi dan teratur. Ada petugas yang dengan sigap mengatur antrian imigrasi, kami yang mengantri imigrasi juga tertib. Saya tiba di Haneda sekitar pukul 22.30 waktu setempat. Tentu saja saya memilih menghabiskan malam ini dibandara, lumayan hemat tidak perlu membayar biaya penginapan.

20160117_070507

Prayer Room

Keluar pintu imigrasi deretan kursi tunggu langsung jadi tempat pertama yang saya sambangi. Senyum saya merekah, bahagia rasanya berhasil mendapatkan spot nyaman untuk tidur malam ini. Baru sejenak akan menikmati kebahagian yang tiba – tiba sirna seketika saat saya membaca tulisan yang terpampang nyata pada cone berwarna orange cerah yang menyatakan intinya dilarang tidur disitu karena akan dibersihkan. Pupuslah harapanku. Menghibur diri yang sepi karena batal dapet tempat tidur yang nyaman saya iseng mencoba TOILET yang katanya canggih. Toiletnya bersih itu sudah pasti. Momen bersejarah ini saya nikmati tiap detiknya. Saya ingat betul bagaimana untuk pertama kalinya saya duduk di dudukan kloset yang hangat padahal diluar sana cuacanya dingin sekali. Duduk menikmati hangatnya kloset sambil mempelajari sederetan tombol yang ada. Ada tombol berlambang musik yang kalau dipencet mengeluarkan suara air, tombol pengatur keras lemahnya semburan air macam tombol pengatur volume tv, dan sederet tombol lainnya. Selesai menjalankan urusan darurat militer ditoilet yang ditutup denganritual kebersihan yang airnya juga hangat, dengan berat hati saya meninggalkan toilet dan melewati kursi bakal tempat tidur saya ngga jadi menuju spot lain, yaitu PRAYER ROOM, kenapa prayer room?karena ngga ada tulisan musholla dibandara hehe. Prayer Room terletak di 3F, setelah keluar imigrasi berjalanlah menuju lift untuk menuju 3F. Begitu keluar lift berjalanlah kekiri sampai mentok, Prayer Room ada di pojok. Ruangannya tidak terlalu besar, namun bersih dan nyaman. Kran air wudhunya pun ada yang hangat. Kalau tempat wudhunya tertutup pasti saya sudah memutuskan untuk mandi disini, lumayan bung udah bersih, ada air hangatnya, gratis pula.

 

20160116_235711

Kompleks Pertokoan di Bandara Haneda

Puas menikmati prayer room saya bergegas untuk melanjutkan perburuan mencari tempat untuk tidur. Saya naik satu lantai menggunakan eskalator yang mengantarkan saya pada jajaran kedai yang disetting menyerupai kedai – kedai layaknya sebuah distrik tradisional jepang. Beruntungnya, karena sudah larut malam kedai – kedai tersebut sudah tutup, suasana pertokoan juga sudah sepi, jadi saya bisa puas menikmati area ini tanpa terganggu lalu lalang orang. Areanya photo able banget, tradisional, rapi, dan dilengkapi dengan pencahayaan yang cantik. Sempatkanlah berfoto di area ini ya temans, sama seperti yang saya lakukan hehe. Dari lantai ini saya naik satu lantai lagi menggunakan eskalator. Nah, di lantai inilah letak rest area yang diperbolehkan untuk tidur. Sayangnya tidak sesuai ekspektasi. Kursi yang tersedia tidak terlalu banyak dan saat saya datang mayoritas sudah penuh. Bagi yang ingin charging, disudut dekat eskalator turun terdapat area untuk charging. Jangan lupa membawa universal adapter ya, karena colokan di jepang biarpun kaki 2 (dua) tapi lebih pipih dari yang ada di Indonesia. Bingung mencari area untuk tidur, saya berjalan mengelilingi bagian demi bagian lantai ini. Setelah mengelilingi seluruh area lantai ini akhirnya takdir mempertemukan saya dengan sebuah sofa yang alhamdulillah available untuk tempat tidur saya malam ini. Setelah bergelung untuk menemukan posisi pewe dan berada pada posisi nyaman saya langsung terlelap. Sampai jumpa besok Tokyo!

 

Road to Japan

 

20151218_092130

Nomor Antrian Pemohon Visa

Rasanya baru kemarin saya berasyik masyuk berburu tiket promo dan memutuskan untuk membeli tiket Jakarta – Tokyo (Narita) dan Osaka – Jakarta seharga Rp 3.500.000,-. Ada yang bilang mahal, ada yang bilang murah dan aja juga yang bilang standar. Berhubung harganya masih masuk dalam akal nalar dan kantong saya ya saya belilah itu tiket. Padahal mah belinya juga nyicil pake kartu kredit. Kalau ditanya kenapa milih jepang? simple sih alesannya, ya karena harga tiket yang sanggup saya beli baru sampai jepang belum sampai australia, afrika atau eropa, semoga berikutnya kesampaian bakal kesana, aamiin. Time flies, tiada terasa cicilan tiketnya lunas dan waktu keberangkatan sudah dekat. Pertengahan bulan Desember tahun 2015 saya memutuskan untuk memulai langkah lanjutan mempersiapkan keberangkatan saya ke Jepang.

20151218_092529

Form untuk pengambilan visa

Setelah punya tiket tentu saja langkah selanjutnya adalah harus punya visa. Kebanyakan orang baca berita cuma setengah-setengah, jadi dengan enteng cuma komen gampang kan udah bebas visa. Padahal yang dimaksud bebas visa adalah bagi pemegang e-paspor atau paspor elektronik, itu juga tetap harus apply visanya dulu ke kedutaan buat dapet stiker visanya yang namanya dikenal sebagai visa waiver. Berhubung saya pemegang kasta paspor terendah, paspor hijau, jadul dan enggan migrasi ke e-paspor jadi saya termasuk dalam golongan orang-orang yang harus apply visa. Langkah awal yang saya lakukan adalah percaya pada informasi yang disajikan oleh website kedutaan jepang tentang syarat dan prosedur pengajuan visa. Berkas yang harus dipersiapkan untuk Visa Kunjungan Sementara untuk Tujuan Wisata dengan Biaya Sendiri antara lain:

 

  1. Paspor
  2. Formulir permohonan visa yang bisa di download di website kedutaan jepang
  3. Pasfoto terbaru (ukuran 4,5 X 4,5 cm, diambil 6 bulan terakhir dan tanpa latar, bukan hasil editing, dan jelas/tidak buram)
  4. Foto kopi KTP (Surat Keterangan Domisili)
  5. Bukti pemesanan tiket (dokumen yang dapat membuktikan tanggal masuk-keluar Jepang)
  6. Jadwal Perjalanan yang dibuat menggunakan format yang sudah disediakan dengan mendownload di website kedutaan Jepang (semua kegiatan sejak masuk hingga keluar Jepang)
  7. Surat Keterangan Bekerja
  8. Slip Gaji untuk menggantikan surat referensi bank dan rekening koran karena saya berstatus sebagai pegawai negeri sipil
20160115_150322

Bukti Pembayaran visa

Syarat sudah lengkap, bermodal doa ibu saya melaju menuju kedutaan Jepang yang ada di daerah sarinah menggunakan kendaraan murah meriah sejuta umat, transjakarta. Lokasi Kedutaan Jepang berada tidak jauh dari halte transjakarta Sarinah, kemudian jalan kaki. Jadwal pengajuan permohonan visa adalah pukul 08.30 – 12.00. Begitu sampai disana, saya diharuskan meninggalkan kartu identitas di pintu masuk. Jangan panik, meskipun disana begitu banyak orang yang memiliki tujuan yang sama untuk visa, cuek dan percaya diri saja. Berjalanlah menuju loket terdekat dengan pintu masuk, carilah mesin menyerupai mesin ATM dan ambillah nomor antrian untuk loket permohonan visa. Duduk manislah di kursi tunggu yang telah disediakan setelah mendapat nomor antrian. Begitu nomor antrian yang saya pegang terpampang nyata di loket paling ujung saya segera menuju loket memberikan berkas-berkas yang sudah saya persiapkan sebelumnya. Ingat, berkas harus disusun sesuai urutan sebagaimana tercantum dalam website ya. Setelah berkas diterima, penjaga loket memberikan bukti penerimaan berkas yang nantinya akan digunakan untuk pengambilan paspor 4 (empat) hari kerja kemudian.

4 (empat) hari setelahnya saya kembali lagi ke kedutaan jepang untuk mengambil paspor saya. Jadwal pengambilan visa adalah pukul 13.30 – 15.00. Sama dengan saat mengajukan visa, saya mengambil nomor antrian, duduk manis, dan saat nomor antrian saya terpampang nyata di loket saya segera menuju loket dan menunjukkan bukti pengambilan visa. Setelah membayar Rp 330.000,- petugas loket memberikan paspor saya yang alhamdulillah sudah dibubuhi visa Jepang untuk single entry 15 (lima belas) hari. Visa sudah jadi, Jepang i’m coming!!

Last day : Shop ’till Drop

Rabu, 13 Mei 2015

IMG-20150513-WA0019

Jam Tangan 9.900 KRW

No alarm today!!. Sedih ketika menyadari ini adalah hari terakhir menjamah Seoul, rasanya masih ingin berlama lama disini. Hari ini tak ada kewajiban untuk bangun pagi, mengapa? karena ini hari bebas itinerary. Hari ini hari jalan santai menyusuri seoul untuk merekam tiap jengkal keindahan seoul dan memastikan hari ini akan saya ulang lagi entah bulan depan tahun depan depannya lagi atau depan depannya lagi yang pasti saya akan kembali lagi, korea tunggu saya ya. Setelah rapi, saya mengawali hari ini berbeda dengan hari hari saya sebelumnya. Selain hari ini saya mulai lebih siang dibanding hari hari sebelumnya, hari ini saya mulai dengan sarapan. Satu gelas teh manis hangat dan 2 eh 3 tumpuk roti selai menjadikan hari ini semakin lengkap. Sementara berada 3 lantai di bawah saya, rekan saya memulai harinya dengan sarapan satu gelas kopi di gerai dunkin donuts di pintu masuk hostel. Hari ini kami sepakat untuk menghabiskan sisa sisa KRW kami untuk berbelanja di komplek EWHA WOMENS UNIVERSITY.

IMG-20150513-WA0028

Tas 10.000 KRW

Berdasarkan hasil baca baca, katanya di kompleks kampus ini banyak barang barang lucu khas korea dengan harga miring dan pas tanpa tawar menawar. Perlu saya luruskan, untuk budget traveller seperti saya sudah dapat dipastikan berbelanja bukan bagian dari perjalanan mengingat untuk makan sehari 3 kali saja saya ehm sulit. Berkat kerempongan rekan rekan saya di indonesia yang menginginkan barang barang lucu macam yang digunakan SNSD atau artis dalam drama drama korea akhirnya saya memutuskan satu harian ini saya akan berburu TITIPAN dari rekan rekan saya ini. Ewha Women university ini stasiun subwaynya hanya berjarak beberapa stasiun dari subway hongik university. Dari subway Hongik university gunakan line 2 warna hijau turun di stasiun subway Ewha Women University. Keluar subway sudah terpampang nyata area pertokoan yang menjajakan beragam dagangan mulai dari jam tangan, jaket, baju, kosmetik, tas, dan bermacam macam souvenirs. Seharian ini memang agendanya tawaf toko, jadi dari pagi sampai sore agendanya cuma belanja dan akan di tutup menggalau di malam hari di area hongik university menyaksikan penampilan street performance. Saran saya sebaiknya jangan lupa membeli bagasi untuk penerbangan pulang, karena pasti anjaan membludak hehe. Demikianlah rangkaian perjalanan saya di korea, besok sudah saatnya kembali ke Jakarta. Semoga bisa kembali lagi kesini, aamiin. Sampai jumpa lagi diperjalanan selanjutnya. Happy Travelling.

Everland and Bukchon Hanok Village

Selasa, 12 Mei 2015

20150512_105047

Everland

Setelah tidur panjang karena alasan pekerjaan bukan karena makan apel dari nenek sihir, finally hari ini blog saya kembali. Baiklah, saya akan melanjutkan postingan lanjutan dari postingan saya sebelumnya tentang perjalan saya di Korea Selatan. Hari ini adalah hari kelima saya menapakkan kaki di Seoul, Korea Selatan. Pagi ini tidak jauh berbeda dengan pagi – pagi saya sebelumnya, sejuk dan menyenangkan. Saya bangun pagi bahkan lebih pagi dari hari – hari  biasaya dan sudah bersiap untuk menyelesaikan itinerary saya hari ini. Tanpa sarapan sebagaimana pagi – pagi saya sebelumnya, saya dan rekan saya menembus sejuknya angin hari itu menuju Subway Hongik University yang hanya sepelemparan batu dari hostel tempat kami menginap. Pagi ini perjalan akan sangat panjang dan menjadi perjalanan terpanjang dibandingkan dengan hari hari sebelumnya. Berbekal sekotak dunkin donet mini yang lebih mirip onde onde, saya dan rekan saya dengan semangat 55 bergegas menuju EVERLAND.

20150512_095909

Subway ke Everland

Hasil baca dan googling sebelum keberangkatan ada beberapa cara menuju roma  eh everland. Bisa menggunakan subway, bisa juga menggunakan bus. Berhubung kami adalah generasi mie instan yang sukanya instan, maka kami putuskan untuk mempermudah perjalanan kami menuju everland kami memilih menggunakan subway. Sama halnya dengan hari hari sebelumnya, perjalanan selalu kami mulai dari Line 2 warna hijau subway Hongik University. Dari Subway Hongik University kami seharusnya turun di subway Wangsimni untuk ganti Line warna Kuning, yaitu Bundan Line. Hasrat dan takdir berkata lain, perut saya mules dan rekan seperjalanan saya juga punya hasrat untuk ke toilet. Hanya dengan anggukan kepala kami berdua turun entah di subway mana. Setiap stasiun pemberhentian subway dilengkapi dengan toilet. Pesan moralnya selalu sedia tissue basah, karena tidak semua negara sama seperti indonesia menggunakan air untuk cebok (entah apa bahasa halusnya). Hasrat tersalurkan hati senang kami masuk subway lagi dan menuju subway wangsimni. Dari Subway wangsimni kami pindah ke bundan line warna kuning yang kemudian turun di Subway Giheung. Dari subway Giheung inilah satu satunya subway menuju menuju everland yaitu everline. Kalau bingung nyari di peta lngsung lihat pojok kanan bawah warna hijau muda itu everline. Gerbong subwaynya hanya satu. Entah rejeki anak sholeh entah kepagian yang jelas subwaynya tidak terlalu ramai bisa duduk sambil selonjoran.

20150512_110443

Free Bus to Everland

Tak memakan waktu lama, sampailah kami di pemberhentian terakhir subway everline. Dari sini kita bisa menggunakan shuttle bus gratis menuju everland. Konon menurut sumber yang saya baca (bukan primbon), busnya berwarna kuning cerah. OK, warna genjreng akan mudah terlihat. Kami mengelilingi bus bus dan mobil mobil yang berjajar rapi entah di lapangan entah carpark yang dari sekian banyak yang berwarna kuning tidak ada yang merupakan shuttle bus menuju everland. Terpilihlah seorang ajusi mirip papa nobita yang sedang membersihkan kaca sebuah bus untuk kami tanya. Tentu saja dengan bahasa inggris seadanya dibantu dengan bahasa tubuh dan bahasa korea hasil marathon nonton drama korea jaman kuliah dulu akhirnya kami menemukan shuttle busnya. Well, pantas saja tidak ketemu cat busnya warnanya putih dan bukan kuning pemirsah!!mungkin sudah ganti cat. Jangan dikira saya bakal masuk everland, saya cuma mau foto sama gerbangnya aja kok. Why?karena buat saya everland ya sama kaya theme park pada umumnya jadi saya lebih memilih menggunakan won saya untuk makan odeng dan stroberi sepuasnya hehe.

20150512_150829

Bukchon Hanok Village

Setelah puas menjamah gerbang everland, kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, BUKCHON HANOK VILLAGE. Awalnya kami enggan menuju kesini karena kami pikir tidak akan jauh berbeda dengan Namsangol Hanok Village yang sudah kami kunjungi sebelumnya, tapi tak apalah sudah jauh jauh ke seoul sayang untuk dilewatkan. Menggunakan Yongin everline kami menuju subway Giheung. Dari subway Giheung kami naik bundan line warna kuning turun di subway Suseo. Dari subway suseo ganti line 3 warna orange turun di subway Anguk. Selanjutnya berjalanlah keluar ikuti petunjuk di stasiun subway untuk exit menuju bukchon hanok village adalah exit 2. Suasananya berbeda dengan Namsangol Hanok Village. Bukchon Hanok Village ternyata sebagian besar rumahnya masih berpenghuni, jadi tidak bisa sembarangan masuk, ada beberapa rumah yang memang dibuka untuk wisatawan. Dikarenakan areanya berpenghuni jadi dilarang berisik. Hebatnya lagi biarpun berpenghuni dan jadi objek wisata, area ini tetap bersih, bangunannya pun tetap dilestarikan sebagaimana bentuk bangunan bersejarah bahkan sebagian besar dilengkapi dengan cctv.

20150512_152321

Information Centre

Destinasi selanjutnya adalah INSADONG. Kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju insadong karena menurut peta jaraknya tidak terlalu jauh. Ditengah persimpangan jalan kami bingung harus kekanan atau lurus atau kekiri dan saya bukan orang yang pandai membaca peta. Beruntungnya kami bertemu dengan kakak kakak yang bertugas sebagai information centre. Dari kakak kakak inilah kami mengetahui harus berjalan ke arah mana. Kakak kakak ini berdiri di berbagai penjuru dekat objek wisata di seoul. Mereka sudah siap dengan berbagai peta yang akan membantu kita menuju destinasi tujuan. Jangan ragu untuk bertanya karena mereka bertugas memberikan informasi dan tentu saja mereka bisa berbahasa inggris. Keren deh sama konsep tourismnya korea. Mereka keliatan concern banget memperhatikan sektor pariwisata. Coba di Indonesia dikelola sebaik ini pasti kita akan menjadi negara yang kaya raya dan tentunya objek pariwisatanya tetap terjaga.

20150512_153551

Teopokki (kanan) dan Odeng (kiri)

Ditengah langkah kami, teman saya berhasrat ingin ke toilet dan kami tidak tau dimana toilet terdekat. Berhubung ada gerai odeng dan teopokki kami memutuskan sekalian makan sekaligus numpang ke toilet. Gerainya tidak terlalu besar tapi ramainya luar biasa. Kami berdua duduk dan mulai sibuk memeriksa daftar menu. Harganya lebih murah daripada di street foodnya myeong dong. Satu tusuk odeng di myeong dong harganya 1.000 KRW disini cuma 500 KRW. Semangkuk teopokki di myeongdong harganya 2.500 KRW disini cuma 1.500 KRW. Langsung borong!!. Rasanya sama enaknya dengan yang di myeongdong hanya saja untuk go chu jang alias sambel nya lebih enak yang di myeongdong. Go chu jang pertama seumur hidup saya dan enak banget ya go chu jang myeongdong itu. Dingin dingin begini makan odeng plu kuahnya bikin badan jadi anget. Odeng ini terbuat dari ikan, halal tenang aja apalagi makannya pakai bismillah. Kalau teopokki terbuat dari beras, kemudian dimasak pakai kuah entah saos entah apa warna merah pokoknya dan agak pedas. Pokoknya endess.

20150512_164758

Insadong

Dunia berwarna kembali karena perut sudah kenyang. Kami melanjutkan perjalanan kembali menuju insadong. Lagi lagi hasrat ingin ke toilet tak bisa ditahan. Bertepatan dengan kami melewati public library. masuklah kami ke kompleks publc library yang dilengkapi taman yang cukup luas dan rindang. Setelah selesai urusan toilet, kami bergegas berjalan lagi menuju insadong. Insadong ini masih kalah besar sama PGC, disini cuma sejajaran gerai di satu jalan yang menjajakan barang barang antik, souvenir dan makanan. Masih panjangan jalan malioboro kemana mana. Kalau mau membeli souvenir macam gantungan kunci dan teman temannya saya menyarankan di toko arirang yang ada di doota mall yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Kalau disini belilah tas tas lucu ada berbagai model baik untuk pria maupun wanita. Motif yang sedang hits adalah bunga bunga ala cath kidston gitu deh. Harganya cuma 10.000 KRW. Kurang puas kami memutuskan berjalan kaki menuju DONGDAEMUN dan NAMDAEMUN MARKET. Kalau malas menawar sebaiknya jangan membeli barang disini. range harga yang ditawarkan disini kelewatan contohnya saja koper untuk ukuran kabin saya beli seharga 40.000 KRW sekitar Rp 500.000,- dan itupun sudah tawar menawar yang sengit dari awal mula 100.000 KRW karena sudah malas dan tidak boleh setiap kali saya mau pergi saya mau diharga 40.000 KRW. Saya paling malas kalau tawar menawar seperti ini dan apabila anda sama seperti saya, tempat tempat ini sangat tidak saya rekomendasikan. Well, hari ini cukup sudah serangkaian perjalanan saya saatnya kembali ke hotel mandi air hangat dan tidur. Sampai jumpa besok, Happy Travelling!.